Wednesday, December 16, 2009

Perancang Lambang RI yang terlupakan


SEPANJANG orang Indonesia, siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar - karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.**


Sultan Hamid II Pencipta Burung Garuda
Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak, Kalbar ini adalah pencipta Burung Garuda. Sultan Hamid juga orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer.

Pontianak: Nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie memang kurang dikenal di Tanah Air. Padahal, tokoh nasional dari Pontianak, Kalimantan Barat ini adalah pencipta lambang negara Indonesia, Burung Garuda.

Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu mayor jendral.

Sultan Hamid membuat lambang negara berdasarkan penugasan Presiden Sukarno pada 1950. Saat itu dia menjabat menteri tanpa porto folio. Rekannya, Muhammad Yamin sebenarnya juga membuat rancangan lambang negara, Namun, Sukarno akhirnya memilih rancangan Sultan Hamid. Setelah disempurnakan, gambar Burung Garuda diresmikan Sukarno sebagai lambang negara pada 10 Februari 1950.

Salinan sketsa Burung Garuda yang tersimpan di Keraton Kadriah, Pontianak ini menunjukkan proses pembuatan lambang negara sangat rumit hingga harus diubah berkali-kali.

Wednesday, November 25, 2009

Konser Dmasiv Di alun-alun Kota Wonosari 22 November 2009


Konser Ini dimulai sekitar pukul 20.00 wib bertempat di alun-alun kota Wonosari. Sebelum Konser Dmasiv dimulai terlebih dahulu ditampilkan Band Indi Jogja.Kemudian dilanjutkan dengan DMasiv. Mulanya konser berjalan dengan damai tapi ditengah acara timbul Insiden dan Ryan (vocalis) menjadi salah satu korban pelemparan batu. Kemudian Konser berhenti sesaat, ingat juga saat Ryan bilang " Mo dilanjutkan gak?!!!!!!" terdengar suara penonton "Lanjuuuut!!!!" akhirnya konser dilanjutkan kembali. Setelah konser Dmasiv selesai masih dilanjutkan Dangdut yang menampilkan New Trio Macan dengan iringan musik OM Latansa dari kota jogja dalam konser itu juga menampilkan artis-artis dangdut lokal.Semoga Kericuhan dan Pelemparan batu itu tidak menjadikan nama GUNUNGKIDUL buruk di blantika musik nasional. Karena segala kemungkinan pasti terjadi dan perbuatan jail oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab harus kita berantas bersama-sama.

Tuesday, November 24, 2009

UNTUK PERTAMA KALINYA PURNA PASKIBRAKA INDONESIA KABUPATEN GUNUNGKIDUL DIKUKUHKAN Lomba Baris-Berbaris memperingati hari sumpah pemuda ke-81

Sabtu, 24 oktober 2009 merupakan peristiwa bersejarah bagi Purna Paskibraka Indonesia Kab.Gunungkidul, dengan dikukuhkanya kepengurusan baru oleh Bupati Gunungkidul yang diwakili oleh Drs. M Joko Sasono Sekda Kab.Gunungkidul maka resmi sudah kepengurusan saat ini. Sebelum pengukuhan pengurus yang berjumlah 23 orang, dilakukan pelantikan anggota oleh ketua lama Isdiyantoro B.S,S.Pdi. Pengukuhan ini dihadiri oleh Muspida Kab.Gunungkidul selaku dewan penasihat, Pejabat Dikpora,Majelis Pertimbangan Organisasi, Organisasi Pemuda serta Pengurus PPI Provinsi DIY.
Dalam sambutannya, Ketua terlantik Sampah Muhari menyampaikan bahwa PPI GK akan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah kab.Gunungkidul, Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM sehingga mampu mengangkat citra baik Gunungkidul dimata luar melalui kegiatan kepemudaan.


























Bekerja Sama Dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga
, minggu(25/10) Dilanjutkan dengan Lomba Baris-berbaris memperingati haris sumpah pemuda ke-81.Jumlah peserta yang ikut, SD/MI 29 pleton, SMP/MTS 29 Pleton dan SMA/SMK/MA 27 Pleton.dengan hasil kejuaraan sbb :
SD/MI

Pleton Putra: juara I no dada15 dari SD Gajasari Nglipar jara II no dada 4 dari SD AL Mujahidin, Juara III no dada 24 dari SD Mulo Baru Untuk
Pleton Puti : juara I no dada 13 dari SD IT Wonosari, Juara II no dada 23 dari SD AL Mujahidin, dan juara III no dada 16 dari SD Gajasari Nglipar
DANTON TERBAIK PUTRI:Virnanda SH dari SD N Mujahidin
DANTON TERBAIK PUTRA : Eko P dari SD N 1 Panggang
dan JUARA UMUM SD AL MUJAHIDIN WONOSARI

SMP/MTs
PLETON PUTRI : Juara I No dada 15 dari SMP 1 Nglipar, juara II no dada14 dari SMP 2 Karangmojo, Juara III no.dada 12 dari SMP 2 Ponjong.
PLETON PUTRA : Juara I no.dada 10 dari SMP 1 Nglipar, Juara II no.dada 27 SMP 1 Wonosari dan Juara 3 no.dada 22 dari SMP 2 ponjong
DANTON TERBAIK PUTRI:Elvi Husniawati dari SMP N 1 Ponjong.
DANTON TERBAIK PUTRA: Edy Ardiyanto dari SMP N 1 Nglipar
JUARA UMUM SMP 1 NGLIPAR

SMA/SMK/MA
PLETON PUTRI: Juara I no.dada 11 dari SMA 1 Wonosari , Juara II no.dada 23 dari SMK N 2 wonosari, JuaraIII no.dada 26 dari SMK N 1 Saptosari
PLETON PUTRA: Juara I no.dada 21 dari SMKN 2 Wonosari, Juara II no.dada 20 dari SMKN 3 Wonosari, Juara III no.dada 7 dari SMKN 3 Wonosari
DANTON TERBAIK PUTRI: Fauziah dari SMA N 1 Wno
DANTON TERBAIK PUTRA: Mulyo H dari SMK N 2 Wno
dan JUARA UMUM SMK N 2 WONOSARI



Tuesday, July 21, 2009

LUSTRUM EKAMAS KE-9


Keluarga SMA 1 Wonosari akan menyelenggarakan Lustrum EKAMAS ke-9. Lustrum ini diadakan oleh Panitia Lustrum EVOLUTION 9th (Ekamas Vor Lustrum Generation 9th). Acara Lustrum direncananya akan disemarkan dengan mengadakan 9 kegiatan dalam berbagai bidang antar lain : edukasi, hiburan, bakti sosial dan jumpa alumni. Secara singkat berbagai kegiatan waktu dan tempat pelaksanaan sebagai berikit :
* Diklat dan Lomba Fotografi (19 – 26 Juli 2009) di SMA N 1 Wonosari
* Lomba Baris Berbaris (26 Juli 2009) di SMA N 1 Wonosari dan Dinas Pekerjaan Umum
* Stand UKK (26 Juli 2009) di SMA N 1 Wonosari
* Jalan Sehat (02 Agustus 2009) di Lingkup Kota Wonosari
* Lomba Inskul (05 Agustus 2009) di SMA N 1 Wonosari
* Pentas Seni (09 Agustus 2009) di SMA N 1 Wonosari
* Bakti Sosial dan Bazaar (15 – 16 Agustus 2009) di Dusun Soka I, Wunung, Wonosari, GK
* Musikalisasi Puisi (16 Agustus 2009) di Laboraturium IPS SMA N 1 Wonosari
* Seni Budaya dan Temu Alumni (26 September 2009) Pendopo Sewokoprojo atau Balai Desa Kepek

Insya Allah tidak ada perubahan, panitia juga meminta dukungan moril maupun materiil. Untuk dukungan materil bisa diserahkan langsung ke panitia /sekolah.

Panitia Lustrum EVOLUTION 9th (Ekamas Vor Lustrum Generation 9th)

* Atas nama HAFIZHAH KUSUMA HAMBARARUM
* Bank BRI WONOSARI
* Nomor Rekening : 0153–01-006397–53-7
* Info Kontak Panitia “ONLINE” : Nisa Garcia garcia_nisa@yahoo.co.id


Monday, June 15, 2009

Mimpi hanya akan menjadi Mimpi



Mengapa mimpi hanya akan menjadi mimpi? Bukankah kesuksesan seseorang bermula dari mimpinya. Bisa dikata tanpa mimpi tidak mungkin ada motivasi dan tujuan. Dan tanpa tujuan apa yang membuat anda berfikir telah mencapai kesuksesan.

Sebenarnya kata motivasi diatas kurang lengkap…. Yang sebenarnya adalah : Mimpi hanya akan menjadi mimpi jika kau tidak pernah bangun untuk mewujudkannya.

Namun bukan hanya sekedar bangun saja. Tapi harus SEGERA DILAKUKAN. Percuma bung jika anda ingin mewujudkan mimpi itu tapi dilakukan 1 bulan setelah anda bangun. Gagal memang belum terjadi, tapi kesuksesan pasti semakin menjauh.

Dan Bagaimana cara mewujudkan mimpi itu!

Untuk mewujudkan, ya itu tergantung dari mimpi anda sendiri! Jangan bermimpi yang diluar akal sehat atau terlalu sulit untuk diwujudkan. Contohlah : Setelah lulus SMA, Setahun kemudian aku harus jadi President. Bukannya itu tidak mungkin terjadi…. tapi itu hal yang sulit!Bermimpilah step by step. Misalnya setelah lulus SMA aku ingin berdagang kecil-kecilan. Tiga tahun kemudian aku bisa membuat toko. 10 tahun kemudian aku bisa membuat perusahaan besar. 3 tahun setelah itu terjun ke politik. dan setrusnya anda menjadi president.Tentu jalan setiap mimpi orang berbeda-beda termasuk anda. Karena diri sendirilah yang bertanggung jawab atas kegagalan maupun kesuksesan diri sendiri. Jadilah pribadi yang kuat dengan terus bermimpi dan mewujudkannya.

Wednesday, June 10, 2009

JIWA PASKIBRAKA


Paskibraka menjalankan tugas untuk mengibarkan bendera merah putih dan jiwa yang harus tertanam didalam hati anggota paskibraka adalah jiwa merah putih. Bendera merah-putih melambangkan keberanian dan kesucian, ketika dibelai angin yang bertiup kencang, sang merah putih berkibar gagah, tegar dan tidak goyah, sedang pada waktu angin sepoi-sepoi, tampaklah sang merah putih berkibar dengan penuh kelembutan dan memancarkan sinar keagungan yang penuh kharisma. Jiwa seorang Paskibraka harus tegar, positip, pantang menyerah dan tidak putus asa ketika mengalami dan menghadapi kesulitan dan selalu dibekali hati nan lembut serta penuh dengan kasih sayang”. Darah dalam tubuh manusia berwarna merah dan putih serta mengalirkan kehidupan jasmani dan rohani. Dengan tekun dan sabar darah merah mengangkut makanan keseluruh tubuh untuk memberi tenaga dan darah putih dengan sikap pantang menyerah penuh nilai kepahlawanan akan mencegah semua penyakit yang akan menggerogoti tubuh kita. Jiwa merah putih adalah suatu bentuk cinta kasih yang akan menumbuhkan suatu rasa pengabdian kepada ibu pertiwi, karena ibu pertiwi sudah memberikan susu dan madunya bagi umat manusia Indonesia agar dapat hidup gemah ripah loh jinawi yaitu suatu kemakmuran bagi setiap manusia yang hidup diatasnya.

Jiwa merah putih adalah jiwa yang penuh kasih dan pengabdian, seperti seorang ibu yang memberikan susunya dengan rela dan penuh cinta kasih kepada anaknya. Demikian juga ibu pertiwi yang tidak pernah lelah dan menggerutu memberikan madu dan segala isinya untuk kehidupan manusia Indonesia. Paskibraka yang berjiwa merah putih harus mau dan berani meniru bumi Pertiwi yaitu rela berkorban dengan penuh cinta kasih untuk sesama dan semua mahluk ciptaan Nya. Bumi pertiwi yang selalu dinjak-injak, diludahi, disakiti, dicerca, dikhianati dan tidak pernah diperhatikan, masih selalu tersenyum dan dengan penuh suka cita memberikan buah, susu dan madunya untuk manusia. Bumi pertiwi dengan penuh cinta kasih selalu memberi dan memberi tanpa mengharapkan pujian, imbalan.

Matahari dari waktu kewaktu selalu bersinar dan tersenyum serta menyapa dengan lembut dari pagi sampai sore, dan waktu malam hari dengan dibantu bulan tetap menyinarkan cahayanya ke dunia ini. Disawah kunang-kunang menerangi kegelapan dengan keindahan sinarnya yang elok tanpa pernah merasakan pujian dari umat manusia, demikian juga lilin lilin kecil yang menerangi tempat disekitarnya dengan ihklas walau tubuhnya terbakar demi memberikan terang disekitarnya. Paskibraka sebagai Pandu Ibu Pertiwi yang berjiwa merah putih haru sbisa memberikan cahaya terang dilingkungan sekitarnya dan selalu bersikap kesatria. Sikap dan tingkah lakunya lemah lembut namun mengandung ketegasan. Nada bicara dan candanya selalu melihat situasi dan kondisi sekelilingnya (em­pan papan). Sebagai tanda cinta cita rasa manusia beradab dan berbudaya tinggi, dari hati sanubarinya yang paling dalam selalu terungkap ucapan “salomkasih” (salam, tolong, maaf, terimakasih).

Seorang paskibraka yang penuh cinta kasih akan selalu berpikir positip dan berani untuk menyapa, dia akan selalu menyapa terlebih dahulu dan tidak akan menunggu untuk disapa oleh semua orang yang ditemuinya, baik orang tua, kakak, adik, saudara-saudaranya, atasan, bawahan dan teman-teman yang lain. Dengan penuh kasih sayang dia akan bersuka cita menyapa dan menunjukkan empati kepada semua orang, perhatian penuh kasih sayang akan tercermin dalam tingkah laku, sikap dan perbuatannya, tutur katanya lembut, suaranya memancarkan suka cita suara hati yang yang bahagia, senyum tulus akan menghiasi bibir dan hatinya sehingga saat berbicara akan terdengar nada yang sangat ramah tanpa kesan dibuat-buat. Saat bertemu ia akan mengucapkan “salam”, salam tersebut dapat berupa ucapan : assalamu’alaikum, selamat pagi, siang atau malam, apa kabar dan sebagainya dengan nada suka cita dan ketulusan. Ucapan salam bisa diteruskan dengan suatu uluran tangan untuk berjabat tangan,. Jabat tangan kepada orang yang kita beri salam dengan penuh kehangatan dan kasih sayang akan mengalirkan kebahagiaan dan kedamaian bagi semua orang yang kita beri salam.

Apabila menginginkan atau meminta sesuatu dari orang lain maka dengan ketulusan hati dan suara yang penuh senyum secara otomatis terucap kata kata “tolong”. Permintaan tolong adalah suatu sikap kerendahan hati karena akan memohon suatu bantuan karena akan dan telah mengganggu serta merepotkan tetapi akan terdengar sangat sopan oleh orang yang dimintai tolong dan pasti dengan penuh suka cita akan menolong kita.

Ucapkanlah permohonan “maaf” atas segala tingkah laku, sikap, perbuatan kita yang mungkin secara tidak sengaja membuat orang lain menjadi tidak nyaman baik secara phisik maupun kejiwaan. Seorang yang mampu mengucapakan permintaan maaf adalah seorang yang mempunyai jiwa besar, rendah hati dan bisa menghormati orang lain. Rendah hati adalah suatu sikap untuk menghargai sesama dengan berani mengakui dan memuji kelebihan sesama sehingga kita juga bisa mensyukuri kelebihan yang dianugerahkan kepada kita. Dengan kerendahan hati, kita menjadi terbuka dan selalu bersyukur sehingga dapat menyinari lingkungan dimana kita berada dan berani mengucapkan permohonan maaf dengan spontan tanpa suatu keraguan jika kita berbuat suatu kesalahan atau mungkin dianggap salah oleh orang lain. Permohonan maaf bukan berarti kita pasti berbuat salah, akan tetapi itulah tanda kebesaran dari jiwa paskibraka.

Ucapkanlah “terima kasih” atas segala kebaikan yang sudah diterima karena dalam ucapan terima kasih terkandung suatu pujian syukur kepada Nya karena cinta kasih yang telah diberikan Nya melalui orang lain yang sudah kita terima. Ucapkan terima kasih dengan tulus, santun dan spontan serta keluar dari nurani yang paling dalam. Disertai anggukan kepala, senyum dan tatapan mata yang tulus akan me­man­carkan pesona yang membuat orang lain tertarik untuk mengikuti suri tauladannya.

Wednesday, May 13, 2009

Akhir Seleksi Capaska Kab.Gunungkidul 2009


Alhamdulillah rangkaian seleksi calon Paskibraka Kabupaten Gunungkidul tahun 2009 telah usai.Seleksi dimulai tanggal 29 april selama tiga hari kemudian dilanjutkan tanggal 5-7 mei 2009 yang kemudian terpilih 80 siswa SMA/SMK dari seluruh Gunungkidul terdiri dari 50 putra dan 30 putri.Dari 80 siswa tersebut telah diambil 8 orang, 4 putra dan 4 putri untuk mengikuti seleksi di tingkat propinsi yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 29,30 n 31 mei 2009.dan 8 siswa tersebut adalah :


Putri :
Dhenia Istikadewi (SMA 1 Wonosari)
Noorrachma Chandra Novianti (SMA 1 Wonosari)
Oksi Pranani (SMA 2 Wonosari)
Mella Retnaningdyah (SMA 2 Wonosari)

Putra :
Anggarawan Ghodi Suryatama (SMA 1 Wonosari)
Agung (SMA 1 Wonosari)
Dedy (SMKN 2 Wonosari)
Taupik (SMK N 2 Wonosari)

Kemudian Tersisa 72 orang yang akan ditugaskan di Kabupaten Gunungkidul.

Buat adek-adek capaska...
semangat...
melalui tangan kalianlah merah putih akan berkibar..
dan di dalam jiwa-jiwa kalianlah merah putih akan bersemayam...

karena NKRI ADALAH HARGA MATI...